Madu Hutan Pohon Sialang Tesso Nilo
“Pohon sialang tidak boleh ditebang!”
Demikian tekad masyarakat adat di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo. Wujud nyata dari kalimat ini tertuang dalam bentuk peraturan desa (PERDES) yang mengatur tentang perlindungan pohon Sialang dan sekitarnya. Bahkan, Peraturan Bupati (PERBUP) juga dikeluarkan untuk melindunginya. Mengapa pohon tersebut demikian bermakna bagi mereka?
Di beberapa kawasan di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo, sejumlah pohon tertentu menjadi sumber pendapatan penting bagi masyarakat, antara lain Kruing, Kempas, Ara, Kedundung Terap, Jelutung, dan Meranti Batu. Masyarakat mempertahankan dan tidak menebang pohon-pohon tersebut karena di sana lebah liar Apis dorsata membangun sarangnya. Masyarakat menghitung biasanya ada 30 sampai 80 sarang setiap pohonnya. Satu sarang dalam pohon yang sama dapat dipanen madunya tiga hingga empat kali dalam setahun. Pohon-pohon tempat masyarakat memanen madu inilah yang dikenal sebagai pohon Sialang.
Berkat upaya mempertahankan pohon Sialang yang ada, masyarakat di sekitar TN Tesso Nilo telah menjadikan madu hutan sebagai usaha ekonomi alternatif. Mereka memanen madu hutan secara lestari dan higienis melalui sistem penirisan sarang. Sarang yang telah diiris akan diproses tanpa remas tangan dan memakai peralatan yang bersih dan bebas pencemaran zat kimia. Melalui tahap pengurangan kadar air (dehumidifier), madu hutan akan dikurangi kadar airnya mencapai 18% sehingga produk madu akan tahan lebih lama.
Proses pengolahan madu ini telah semakin maju dengan dilibatkannya para petani madu dalam pelatihan pengawasan mutu internal, atauInternal Control System (ICS). Penerapan ICS ini untuk memastikan keaslian, kemurnian dan kebersihan produk. Tidak heran, sejumlah perusahaan termasuk dari luar negeri tertarik untuk menjalin kerjasama bisnis dengan para petani dari tepi taman nasional dengan keanekaragaman hayati yang sangat kaya tersebut. Kerjasama ini dilakukan dengan prinsip bahwa masyarakat petani madu sebagai produsen mendapat bagian pendapatan yang adil.
Lebih maju lagi, kini kelompok perempuan di desa sekitar TN Tesso Nilo mulai merintis usaha terkait pemanenan madu, yakni menjadi perajin lilin sarang lebah untuk dijadikan produk hiasan dan kerajinan. Perjuangan dan tekad masyarakat sekitar kawasan TN Tesso Nilo telah membuktikan bahwa pendapatan tambahan bisa diraih dengan melestarikan ekosistem, khususnya pohon Sialang.
Madu Hutan Tesso Nilo dikemas dalam botol kaca 250ml.
Madu Hutan Tesso Nilo adalah produk yang GREEN, karena:
- sistem pemanenan sarang lebah untuk menghasilkan madu memperhatikan sisi keberlanjutan
- kegiatan ini membantu pengelolaan kawasan konservasi di TN Tesso Nilo
- pembuatan madu ini tidak menggunakan bahan kimia tambahan
- diolah secara organik dengan memperhatikan aspek sanitasi peralatan
- usaha kecil yang diolah oleh kelompok masyarakat di sekitar TN Tesso Nilo
- sistem usaha ini menjaga warisan leluhur dan kearifan tradisional
- sistem perdagangan dilakukan dengan kesepakatan yang adil dan transparan antara produsen dan distributor
sumber artikel : www.wwf.or.id
Untuk pemesanan silakan hubungi :
Risa Hananti
SMS.WA.Ph : 0896.987.44.887



0 comments:
Post a Comment